Lokasi:
Daerah Irigasi Ciramajaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Konsep IWRM GWP:
C. 3. EFFICIENCY IN WATER USE
C.3.1. Improved Efficiency of Use.

Lahan  sawah tergenang merupakan sumber beberapa gas rumah kaca (seperti; CO2, CH4, N2O) yang merupakan salah satu penyebab dari Global Warming, padahal  penggenangan pada lahan secara terus menerus dianggap sebagai suatu pemborosan pemakaian sumber daya air.

 

Deskripsi/abstrak:
Berkembangnya isu tentang pemanasan global (Global warming) dari sektor pertanian saat ini mendapat perhatian yang serius dari pemerintah karena  kerusakan lingkungan yang sudah mengkhawatirkan. Lahan sawah merupakan sumber beberapa gas rumah kaca (GRK), seperti CO2, CH4, N2O yang memiliki peranan penting terhadap pemanasan bumi. Pada umumnya sebagian besar petani di Indonesia masih menggunakan budidaya padi cara konvensional dengan cara menggenang, sehingga menyebabkan pemborosan air irigasi. System of Rice Intensification (SRI) merupakan cara budidaya tanaman padi dengan menggunakan bahan organik dan pemakaian air irigasi secara efisien yaitu dengan cara intermittent (terputus). Menurut penelitian yang telah dilakukan  budidaya padi dengan metode SRI ini dapat menghemat air hingga 36% dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 37,5 %. Ditengah kondisi terbatasnya sumber daya air, dengan metode Budidaya SRI hemat air sangat baik diterapkan dalam skala yang lebih luas agar dapat mengurangi dampak pemanasan global dan kelangkaan air.

Pelajaran yang diperoleh (Lesson Learn):
Penelitian ini dilaksanakan dari tahun 2008 sampai dengan 2009 yang dilaksanakan oleh Balai Irigasi bekerjasama dengan Balai Lingkungan Pertanian, Departemen Pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan langsung oleh masyarakat petani di petak Tersier CMA-5ki Daerah Irigasi Ciramajaya, Tasikmalaya.  Dengan menerapkan budidaya padi metode SRI, tidak hanya mensukseskan program hemat air namun juga mengantisipasi dampak pemanasan global dimana dengan penerapan irigasi hemat air pada lahan sawah dapat menurunkan emisi gas metan sebesar 37,5 % dan gas-gas rumah kaca lainnya.

Pentingnya studi kasus ini untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu:
Efisiensi Sumber daya air sangat penting dilakukan karena semakin terbatasnya sumberdaya air untuk irigasi,  mengingat akhir-akhir ini banyak pemborosan pemakaian air diberbagai sektor termasuk pemakaian air irigasi oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat petani mampu menggunakan air sefisien mungkin agar Sumber Daya Air tetap  terpelihara kelestariannya.

Kontak:
Widya Utami
Balai Irigasi, Puslitbang SDA, Departemen Pekerjaan Umum.
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

FaLang translation system by Faboba